Kanker Paru pada Usia Muda dan Non-Perokok

Kanker Paru pada Usia Muda dan Non-Perokok

donutmedialab.comKanker Paru pada Usia Muda dan Non-Perokok. Penyakit kanker paru-paru masih jadi salah satu penyebab kematian terbanyak implikasi kanker di Indonesia.

Meski identik dengan pasien yang telah lanjut usia, kini semakin banyak pasien kanker paru yang berusia di bawah 60 tahun. Lebih-lebih, sebagian ada yang mulai mengalaminya di umur 40-An.

Prevalensi kanker paru di Indonesia

Data berasal dari Globocan oleh WHO membuktikan, penambahan masalah kanker paru di Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai yang terbanyak. Di tahun 2020, jumlah kejadian kanker paru mengalami kenaikan sebanyak 8,8% atau kira-kira 34,783 persoalan.

Jumlah kematiannya pun memadai mengkhawatirkan.Termasuk pada tahun yang serupa, jumlah persoalan kematian implikasi kanker paru meningkat hingga 18 %.

Memang, meningkatnya persoalan kanker paru menandakan semakin banyak masalah yang terdeteksi dan orang-orang udah mulai waspada dengan keberadaan penyakit ini. Tetapi, ini juga bisa menunjukan tingginya taraf mengonsumsi rokok sebagai salah satu penyebab utama kanker paru di Indonesia.

Rokok sebagai penyebab utama kanker paru

Sampai kini, rokok masih jadi faktor risiko terbesar yang sebabkan penyakit kanker paru. Melepas kebiasaan merokok memang sulit dijalani, lebih-lebih jika Kamu merokok selama bertahun-tahun.

Hal ini karena kadar nikotin di dalam rokok mendorong otak memproduksi hormon dopamin yang memberikan rasa nyaman dan pada pada akhirnya mengakibatkan perokok menjadi kecanduan.

Banyak orang yang sulit berhenti merokok sebab udah menganggap rokok sebagai pelepas stres atau pemicu daya di saat bekerja saat malam hari supaya bisa tetap konsentrasi.

Padahal seperti yang udah banyak diketahui, paparan asap rokok di dalam jangka waktu panjang dapat sebabkan rusaknya pada paru dan mengakibatkan perkembangan sel yang salah di dalam paru yang lantas bisa berkembang jadi kanker.

Rokok mempunyai kandungan banyak zat karsinogen yang membuat kanker. Ketika kamu menghirup asapnya, maka zat ini juga akan masuk ke paru-paru dan merusak sel-sel yang ada di dalamnya.

See also  Beware of Stroke Symptoms at a Young Age

Pada awalnya tubuh kamu masih bisa memperbaiki rusaknya implikasi paparan karsinogen itu. Tetapi sejalan waktu, sel-sel normal yang melapisi paru-paru semakin rusak.

Pada kelanjutannya, sel mulai berkembang secara tidak normal dan menumbuhkan kanker. Efeknya memang tidak berlangsung semalaman, namun mutasi bisa berlangsung secara bertahap selama 15-20 tahun kedepan.

Kanker paru di usia muda dan non-perokok

Dahulu, penyakit kanker paru-paru lebih banyak ditemukan pada pasien yang udah berusia di atas 60 tahun. Tetapi kini, kanker paru mulai kerap ditemukan pada pasien yang masih berada di usia muda seperti 40-An.

Ketika ditemui oleh team Hello Sehat, dr. Mariska TG Pangaribuan, Sp.P, selaku dokter spesialis paru di RS Dharmais di Jakarta, disebabkan oleh banyak anak-anak yang mulai merokok di usia yang lebih muda. Situasi ini berlangsung gara-gara minimnya peraturan berkenaan batasan umur untuk membeli rokok.

Tak sekedar itu, rokok juga bisa dibeli satuan dengan harga yang lumayan terjangkau agar hampir seluruh kalangan, termasuk anak remaja dan usia sekolah, bisa membelinya. Karena kemudahan akses untuk meraih rokok ini maka tak heran jika banyak ditemukan anak-anak SD yang telah mulai merokok.

Hal ini pasti jadi kekhawatiran tersendiri. Semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin cepat juga mungkin risikonya terkena kanker paru. “Mutasi sel yang bisa membuat kanker biasanya berjalan di dalam kurun 15-20 tahun.

Jika Kamu merokok mulai usia 20 tahun atau apalagi 15 tahun, mutasi sel di dalam tubuh yang mengakibatkan tumbuhnya sel abnormal penyebab kanker akan timbul di usia 40an tahun atau lebih muda.” tambah dr. Mariska.

Tidak cuman perokok aktif, risiko kanker paru juga menghantui para perokok pasif. Perokok pasif sendiri terbagi lagi jadi second-hand smoker dan third-hand smoker. Pada persoalan second hand smoker, risiko tetap dapat meningkat ketika tetap-terusan terpapar dengan asap rokok di lingkungan lebih kurang.

See also  Horror! Mysterious Disease Kills 3 American Tourists in Bahamas

Sedangkan orang-orang yang jadi thirdhand smoker adalah mereka yang menghisap sisa rokok berasal dari lingkungan meski tak terpapar secara langsung. Misalnya, pasangan Kamu merokok di luar ruangan atau area yang terpisah.

Ketika ulang ke rumah, ia langsung memeluk atau berdekatan dengan kamu. Memang, kamu tidak terpapar asap rokok itu, namun partikel-partikel rokok yang masih menempel di baju pasangan Kamu juga bisa terhirup ke didalam tubuh.

Perempuan di Asia lebih berisiko terhadap kanker paru

Tidak cuman rokok, ada pula faktor-faktor penyebab kanker paru lainnya yang menyebabkan seseorang lebih rentan pada penyakit ini. Baru-Baru ini ditemukan bahwa perempuan di benua Asia, khususnya Asia Pasifik, miliki risiko yang lebih tinggi pada kanker paru.

Kemungkinannya, hal ini disebabkan oleh adanya mutasi EGFR yang positif. EGFR (Epidermal growth factor receptor) adalah komponen di permukaan sel yang berfungsi untuk terima protein dan mengatur perkembangan sel.

Ketika gen EGFR bermutasi, maka sel akan tumbuh di luar kendali dan membawa dampak pertumbuhan tumor atau kanker. Perlu diketahui, kebanyakan persoalan kanker paru yang berjalan di Asia adalah jenis kanker paru non sel kecil. Lebih berasal dari setengah persoalan kanker ini disebabkan oleh mutasi Egfr.

Mutasi EGFR lebih umum ditemukan pada perempuan non perokok yang berusia muda di benua Asia. Di Indonesia sendiri, persentasenya bisa mencapai 40-60%. Jumlah ini lebih banyak daripada perempuan yang mutasi Egfr-Nya positif di benua Eropa dengan kandungan 16-20 prosen.

Meski demikian, Dr. Mariska memperlihatkan perawatan untuk menanggulangi mutasi EGFR pada non perokok terutama bila penyakitnya ditemukan lebih awal hasilnya akan lebih baik dan dapat menaikkan asa hidup.

See also  Early Detection and Potential Recovery of Prostate Cancer Patients

Lakukan deteksi dini untuk kanker paru

Deteksi dini kanker paru memang memadai sulit dijalankan. Hal ini disebabkan gejala yang ditimbulkan sering tidak terasa supaya memicu keterlambatan penaksiran kanker paru.
Akan namun penyebaran sel kanker pada persoalan kanker paru bisa berlangsung sangat cepat.

“Banyak pasien yang saya tangani baru berobat ke rumah sakit ketika kanker telah berada di stadium 3 atau 4.” ujar Dr. Mariska. Bila telah berjalan, tentunya hal ini bisa berakibat fatal. Mutu hidup pun menjadi menurun drastis, beraktivitas pun semakin sulit. Hidup harus bergantung pada tabung oksigen.

Maka berasal dari itu, dr. Mariska tekankan pada penduduk untuk langsung melaksanakan deteksi dini dengan menekuni low dose CT scan menggunakan dosis radiasi yang lebih kecil.
Tes ini bisa menyatakan citra yang lebih memahami berkaitan organ paru kamu.

Berasal dari sini, dokter bisa mendeteksi adanya sel kanker berukuran kecil dan langsung merencanakan perawatan untuk kamu. Bila penyakit langsung ditangani pada stadium awal, lebih tinggi kemungkinannya untuk mencapai kesembuhan.

Deteksi dini sangat penting dilaksanakan khususnya untuk golongan yang berisiko seperti orang-orang berusia di atas 45 tahun, punyai riwayat penyakit paru di keluarga, dan merupakan perokok berat.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker paru?

Tak hanya menjauhi rokok, Dr. Mariska menghimbau penduduk untuk meniti pola hidup sehat seperti makan makanan yang bergizi, tidur yang teratur, istirahat yang lumayan, menghindari stres, dan olahraga rutin.

Dr. Mariska juga berharap edukasi untuk tidak merokok telah digencarkan semenjak masa kanak-kanak, berasal dari sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Ini ditunaikan guna menghindar risiko kanker paru pada usia muda.

Check Also

German MotoGP Results 2022: Fabio Quartararo Winner!

German MotoGP Results 2022: Fabio Quartararo Winner!

donutmedialab.com — MotoGP Germany 2022 is exciting. Fabio Quartararo emerged as the hero, there was a show Francesco Bagnaia fell toward the start of the race! The 2022 German MotoGP will be held at the Sachsenring Circuit, Sunday (19/6/2022) night WIB for 30 laps. This is the tenth series race in MotoGP 2022. Francesco Bagnaia [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published.